Rabu, 27 Januari 2010

SIGNIFIKANSI PERPUSTAKAAN DALAM MENUMBUHKAN MINAT BACA SISWA
(Juara II lKTI 2007)

Oleh. Muhammad Takdir Ilahi

“I have imagined that paradice will be a kind of library”
(Jorge Luis Borges)

Petikan kalimat yang dieksposisikan Jorge Luis Borges (1899-1986) di atas, menegaskan betapa pengaruh perpustakaan sangat berperan dalam membangun masa depan generasi berkualitas, hingga perpustakaan diibaratkan seperti surga. Sekolah yang menjadi pendidikan utama, tidak menjamin bagi seseorang untuk cerdas dan berpengetahuan. Bahkan Andreas Harefa dalam bukunya” Sekolah Saja Tak Pernah Cukup” berasumsi bahwa dalam hal pengembangan pengetahuan dan keterampilan hidup pun lembaga persekolahan tidak banyak memberikan kontribusi yang signifikan. Sebagian besar pengetahuan dan keterampilan hidup yang dimiliki masyarakat patut diduga tidak berasal dari persekolahan, tapi dari proses pembelajaran informal di masyarakat (membaca koran, buku, majalah dan lain se gainya) .
Implikasi perpustakaan dan membaca buku bagi siswa memang merupakan pencapaian yang luar biasa dalam membangun komunitas membaca (reading community). Maka, tak heran ketika Muhidin M. Dahlan dalam tulisannya” Andai Perpustakaan Buka Sampai pukul 12 Malam” mengandaikan surga seperti perpustakaan, memang pembayangan yang berlebihan. Hanya orang kecanduan bau buku dan gila buku yang bisa demikian.
Namun, kegilaan membaca buku dikalangan siswa saat ini, mengalamai kemerosotan yang signifikan. Rendahnya minat baca siswa menjadi suatu problem yang akut yang perlu mendapatkan antusiasme dari elemen terkait dalam membangkitkan minat dan tradisi baca. Minat dan tradis baca sebenarnya sudah ada dalam wacana kita, namun yang perlu diapresiasi adalah bagaimana menkombinasikan minat dan tradisi baca sebagai sebuah aktivitas yang bisa di maksimalisasikan dengan perfect.
Tulisan ini, akan membahas tentang signifikansi perpustakaan dalam upaya penumbuhan minat baca siswa. Karena diyakini, perpustakaan akan menjadi satu solusi dalam menciptakan kaderisasi anak bangsa yang menguasai khazanah ilmu pengetahuan, yang pada gilirannya dapat membangun masa depan bangsa kearah keamjuan.


Tugas dan Peran Perpustakaan
Dalam setiap lembaga pendidikan, tidak akan lepas dari keberadaan perpustakaan, karena perpustakaan berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan (scientific oriented) dan kemampuan profesional (profesional oriented). Berdasarkan orientasi ini, kita berharap para generasi muda sanggup menghadapi perubahan tuntutan dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Karenanya, upaya mendinamisasikan eksistensi perpustakaan bagi siswa dapat menjadi penopang dalan menumbuhkan minat baca. Tugas dan peran perpustakaan sebagai lembaga non formal merupakan sebuah organisasi yang mempunyai peranan signifikan dalam membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Meskipun bukan lembaga formal, namun perpustakaan barangkali mempunyai pengaruh yang lebih dari lembaga formal untuk menjembatani dalam meningkatkan minat baca siswa. Dalam kaitan dengan lembaga pendidikan, Perpustakaan bukan hanya menjadi pusat informasi pembelajaran, akan tetapin juga menjadi pusat informasi penelitian dan pengembangan. Dalam konteks yang terakhir ini, karena pembelajaran ilmu di dasari oleh penelitian, maka bilaman terjadi gap informasi, atau less informasi akan sangat dominan pengaruhnya bagi perkembangan keilmuan. Disinilah pentingnya perpustakaan yang lengkap dan terus berkembang.
Dalam GBHN tahun 1993-1998, telah diuraikan perihal kaitan dan peranan perpustakan, dokumentasi dan informasi atau serimg dikenal dengan singkatan perpusdokinfo dalam mendukung pembangunan nasional, khususnya pembangunan di empat sektor, yaitu: pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan hukum. Pembangunan di empat sektor tadi, menjadi keuntungan besar (big advantage) bagi eksistensi perpustakaan dalam melaksanakan tugas dan peranannya sebagi pusat informasi dan ilmu pengetahuan khususnya siswa yang menjadi generasi penerus bangsa.
Tugas dan peran perpustakaan sebenarnya lebih kepada upaya pengembangan wawasan siswa dalam menelaah pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan global dan perkembangna zaman. Hal ini menjadi bukti kongkrit bahwa keberadaan perpustakaan yang menyediakan aneka ragam bahan pustaka adalah untuk meningkatkan minat baca siswa yang akhir-akhir ini mengalami kemerosotan. Untuk itu, diperlukan adanya upaya dinamisasi dan optimalisasi dalam mengembangkan lebih lanjut tugas dan peran perpustakaan untuk mencerdaskan anak bangsa.
Eksistensi perpustakaan saat ini, perlu diupayakan pengembangannya dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia yang dimiliki siswa. Karena secara faktual, perpustakaan mempunyai kinerja yang bermakna bagi peningkatan kemajuan pendidikan yang menjadi tonggak utama dalam membangun bangsa yang berperadaban dan berkeadaban. Dalam hal ini, perpustakaan menjadi salah satu bagian terpenting ( part of the most important) dalam mendeterminasi tingkat kemajuan pendidikan yang berlandaskan pada upaya pengaplikasian nilai-nilai sumber daya manusia secara holistik. Mengingat rendahnya kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia, maka dalam menghadapi perubhan sosial sebagai dampak globalisasi, agenda utama pendidikan tiada lain adalah pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia baik di tinjau dari nilai ekonomis atau nilai insani
Dengan kualitas sumber daya manusia yang memadai, maka upaya mengintegralkan kualitas peserta didik yang berwawasan intelektual dalam rangka kompetisi secara sehat dengan bangsa lain dapat menjadi langkah yang realistis untuk mengembangkan lebih lanjut kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Kualitas sumber daya manusia seperti di atas, dimaksudkan untuk menghadapi tugas kehidupan yang menurut Muchtar Buchori meliputi tiga tugas pokok, yaitu : (1) untuk dapat hidup (to make a living), (2) untuk mengembangkan kehidupan yang bermakna (to lead a meaningful life),(3) untuk turut memuliakan kehidupan (to ennoble life)
Melihat realitas di atas, maka menjadi penting pengembangan perpustakaan harus lebih dioptimalisasikan untuk menunjang terhadap kebutuhan siswa yang haus akan informasi dan ilmu pengetahuan, yang pada gilirannya dapat membantu terhadap agenda pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, perpustakaan harus menetapkan visi dan misinya serta srategi dalam pengembangan perpustakaan. Melalui upaya tersebut, maka perpustakaan di masa mendatang akan terus berkembnag dan mampu menghadapi tantangan modernisasi.

Tujuan dan Fungsi Perpustakaan
Sebagai pusat informasi dan ilmu pengetahuan, peranan perpustakaan sangat besar dalam rangka merealisasikan agenda perpustakaan yang berlandaskan pada upya pembentukan generasi Indonesia yang menguasai pelbagai macam ilmu pengetahuan. Generasi ini kemudian yang akan menjadi motivator dalam mendeterminasi masa depan bangsa Indonesia yang mampu bersaing dengan perkembangan zaman dan perubahan ilmu pemgetahuan dan teknologi yang semakin berkembang.
Dalam hal ini, perpustakaan merupakan lembaga informal yang memiliki influensi besar bagi dunia pendidikan. Sebagian besar setiap lemabaga pendidikan mesti mempunyai sebuah perpustakaan yang menyediakan aneka ragam bahan bacaan yang dibutuhkan oleh para siswa. Di dalam perpustakaan banyak disediakan bahan bacaan seperti buku ilmiah maupun non ilmiah, majalah, koran, klipingan, pamflet, laporan dan lain sebagainya.
Untuk menunjang terhadap pengembangan perpustakaan, maka dibutuhkan adanya orang yang mengurusi perpustakaan, yakni pustakawan yang bertugas untuk melaksanakan agenda dan program perpustakaan kedepan untuk memberikan layanann informasi dan wawwasan keilmuan yang dibutuhkan. Nurasih Suwahyono (2000), menegaskan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di dunia perpustakaan, dokumentasi dan informasi (pusdokinfo) pada abad informasi harus ditanggapi oleh pelaku- pelaku informasi, yaitu para pemakai, pengarang, penerbit, pustakawan, peneliti dan sebaginya yang mempunyai peranan dalam mata rantai informasi. Lebih lanjut ditegaskan bahwa pustakawan harus melengkapi dirinya dengan keahlian maupun pengetahuan yang sesuai dengan tuntutan abad informasi agar dapat tetap berada dalam jalur mata rantai informasi untuk mendukung kegiatan organisasinya.
Kederadaan perpustaakan di tengah-tengah kehidupan masyarakat mempunyai pelbagai macam tujuan yang menjadi landasan vertikal dalam merealisasikan program perpustakaan sebagai pusat informasi dan ilmu pengetahuan bagi siswa secara universal. Dalam hal ini, penulis mengutip perkataan Sulistio Basuki dalam bukunya yang berjudul “ Pengantar Ilmu Perpustakaan “ mengenai tujuan umum perpustakaan. Pertama, untk memenuhi keperluan informasi masyarakat, lazimnya staf pengajar dan mahasiswa, sering pula mencakup tenaga administrasi perguruan tinggi. Kedua, Menyediakan bahan pustaka rujukan (referensi) pada semua tingkat akademis, artinya mulai mahasiswa tahun pertama sampai mahasiswa program pasca sarjana. Ketiga, menyediakan ruang belajar untuk pemakai perpustakaan. Keempat, menyediakan jasa peminjaman yang tepat guna bagi berbagai jenis pemakai. Kelima, menyediakan jasa informasi aktif yang tidak saja terbatas pada lingkungan perguruan tingggi, tetapi juga berbagai industri lokal.
Mengenai tujuan umum perpustakaan di atas, maka perpustakan sebagi wadah informasi dan dokumentasi semakin terdesak untuk dikembangkan. Mengingat dinamisasi tugas dan peran perustakaan merupakan suatu keniscayaan untuk diprioritaskan dalam rangka mewujudkan idealisme perpustakaan yang sebenarnya. Tujuan perpustakaan tersebut sangat relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin mengalami kemajuan signifikan
Beberapa contoh pengluasan misi perpustakaan atau yang disebut dengan creed yakni, pernyataan misi dan tujuan sebuah organisasi dapat diutarakan sebagai berikut :
1. Perpustakaan Cornell University “ to provide bilblioraphical, physical, and intellectual acces to recorded knowledge and information consistent with the present and anticipated teaching and reseach responsibilities and social concerns of Cornell”.
2. Perpustakaaan Duke University “ services and recources to meet the present and future schllarly and informational need of the Duke University community and, insofar as possible, to share recources with those outside the University”.
3. Perpustakaan Umum Menneapolis menegaskan fungsinya “ a dynamic civic recources that provides information, materials and services to stimulate ideas, advance knowledge, and enhance the quality of life for the community” .
Di samping pelbagai macam tujuan yang telah disebutkan, perpustakaan juga mempunyai fungsi yang sangat berperan dalam menunjang pengembangan perpustakaan ke depan. Fungsinya tidak lepas dari fungsi pendidikan, informasi dan rekreasi, meskipun menurut Stuart and Eastlick (1981), ketiga fungsi tersebut adalah fungsi dari perpustakaan umum sebagaimana penegasannnya “ for public libraries the mission has traditionally been education, information and recreation ; the library emerged as the vehicle to occomplish this mission”.
Dari ketiga fungsi tersebut, tentunya fungsi pendidikan dan informasi lebih ditekankan dari pada fungsi rekreasi yang bersifat hiburan. Karenya, fungsi itu harus dapat dimaksimalisasikan secara proporsional, agar keberadaan perpustakaan sebagai pusat informasi dan ilmu pengetahuan menjadi satu harapan dan impian yang bisa di realisasikan dalam menumbuhkan minat baca siswa

Perpustakaan Sebagai Sarana Vital Pendidikan
Tingkat kemajuan pendidikan saat ini dapat dilihat dari perkembangan perpustakaan yang ada dalam sebuah lembaga pendidikan. Bilamana perkembangan perpustakaannya sudah mengalami kemajuan signifikan, maka berarti lembaga pendidikan tersebut dapat dikatakan maju dan berkembang. Sebab diyakini pepustakaan menjadi tonggak kemajuan dalam membangun bangsa yang berkeadaban dan memiliki peradaban gemilang untuk masa-masa yang akan datang. Oleh karena itu, sejarah peradaban manusia tidak lain adalah sejarah pendidikan, bagaimana manusia menjadi “ dirinya”, mulai dari mahluk pithecanthropus “hingga” human being. Maka, pendidikan adalah bagian dari hidup manusia yang tidak pernah bisa dipisahkan. Tanpa pendidikan manusia tidak akan mampu mengembangkan potensi terjadinya yang ada dalam setiap pribadi, yang membedakan antara manusia dengan mahluk lainnya.
Dengan demikian, perputakaan merupakan sarana vital pendidikan yang dapat menunjang terhadap kemajuan sumber daya manusia yang dimiliki siswa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Di tempat inilah segala macam bentuk pengetahuan didapattkan sebagai bahan referensi kehidupan yang mungkin dibutuhkan untuk menambah wawasan. Akses informasi dan ilmu pengetahuan tersebut tentunya sangat dibutuhkan dalam rangka membuka cakrawala berpikir siswa untuk menyongsong masa depan yang bernuansa spirit pembelajaran (learning spirit).
Perpustakaan secara faktual merupakan tonggak kemajuan bangsa untuk melahirkan kaderisasi anak bangsa yang bisa diharapkan dapat melanjutkan kepemimpinan pendahulunya. Meskipun pada hakikatnya, perpustakaan bukan merupakan lembaga formal yang terstruktu secara proporsional. Namun, paling tidak keberadaanya sudah dapat membuktikan kepada publik bahwa perpustakaan mampu membangun komunitas masyarakat yang menguasai informasi dan ilmu pengetahuan.
Lain halnya dengan belajar di lembaga formal yang sebetulnya merupakan proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan, pendewasaan diri, pematangan pribadi, pendewasaan diri, berkomunikasi, berorganisasi dan membangun relasi dengan sesama agar menjadi pribadi yang dewasa, berwawasan luas, berjiwa matang, tidak kuper, punya prinsip hidup yang kuat, memiliki integritas yang tunggi dan tidak plin-plan. Begitu halnya dengan organisasi perpustakaan yang mempunyai komitmen dan konsistensi dalam membangun karakter bangsa (nation character) yang bisa diharapkan dedikasinya .

Optimalisasi Perpustakaan dalam Menumbuhkan Minat Baca
Membincangkan masalah minat baca sangat menarik untuk dieksposisikan ke permukaan. Mengingat rendahnya soal minat baca buku dikalangan siswa sering terdengar dibenak kita. Masalah itu merupakan problem krusial yang menjangkit ke seluruh elemen masyarakat selama dekade terakhir ini. Barangkali hanya segelintiran orang yang memang benar-benar gila sama buku, sedang yang lain lebih senang nongkrong dan bercandra ria dengan teman- temannya.
Menurunnya minat baca siswa akhir-akhir ini, tidak lepas dari gejolak modernitas yang menawarkan pelbagai macam mode untuk digandrungi oleh generasi muda kita, sehingga tendensi untuk membaca buku bukan merupakan suatu keniscayaan yang wajib dilaksanakan. Begitulah gejolak modernitas yang menjadi penghalang bagi siswa untuk mencintai dan menjadikan buku sebagai teman. Generasi muda (siswa) lebih senang menghamburkan duit untuk kenikmatan sesaat dan mereka telah terkontaminasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semisal Hp dan generasi mall yang melanda sebagian besar anak muda yang berpendidikan.
Para siswa seringkali tidak menyadari akan pentingnnya membaca buku untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang dimilikinya. Untuk membeli buku saja seakan-akan sangat berat dan tidak mampu untuk membelinya. Begitulah implikasi budaya konsumerisme beraroma hidonistik yang menghimpit denyut gaya hidup generasi muda, sehingga menghilangkan tradisi baca di kalangan mereka. Hali ini merupakan problem yang krusial untuk dicari problem solving-nya agar minat baca siswa kembali tumbuh dan berkembang dalam pribadinya.
Untuk menjawab tantangan mengenai tendahnya minat baca siswa, maka optimalisasi perpustakaan menjadi satu solusi dan sugesti untuk menimalisasi problem tersebut ke arah perubahan yang lebih menjanjikan. Perpustakaan diyakini memiliki implikasi positif untuk menumbuhkan cakrawala berpikir anak bangsa yang pada gilirannya dapat menguasai akses informasi dan khazanah ilmu pengetahuan. Sebab persoalan ini ikut mendeterminasi perjalanan bangsa dalam menegakkan tiang pancang bangunan peradaban masa depan, kendati barangkali tidak banyak berharap bakal merengkuh peradaban segemilang masa-masa awal Abbasiyah, Yunani Kuno dan sebagainya ; setidaknya ikhtiar memasyarakatkan tradisi membaca akan memerdekaan bangsa ini dari bentuk keterbelakangan dan ke-(pen) bodohan.
Jika ditelisik persoalan jebloknya mianat baca siswa, kita kadang memang berkelindan dengan banyak hal yang membuat penguraian ujung pangkalnya tampak njelimet. Dalam hal ini, Husni Anshori dalam tulisannya yang berjudul “ Membaca Itu Bikin Awet Muda “, memberikan beberapa penguraian mengenai jebloknya minat baca siswa, Pertama, bermula karena faktor artifisial seperti mahalnya bandrol buku di pasaran. Mahalnya buku menjadi penyebab rendahnya minat baca siswa, sehingga menimbulkan keengganan untuk membaca buku. Kedua, empati mencerdaskan bangsa yang kian mati suri.Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa akhir-akhir ini mengalami pelbagai macam tantangan, yang pada gilirannya dapat berimplikasi negatif terhadap masa depan bangsa . Ketiga, wabah “flu” mentalitas yang rada serius. Mentalitas ini menjadi satu hal yang sangat akut dalam perkembangan jiwa manusia, sehingga untuk mengatasi problem mentalitas dalam pribadi siswa di butuhkan penangan yang serius dengan berbekal kesabaran dalam mengupayakan pemecahannya. Keempat, ditambah lagi akan pemahaman yang plin-plan dalam memaknai buku dan tradisi baca tersebut terserabut dibenak para generasi ke generasi masa kini, yakni selalu menggebu-gebu ingin mencurahkan hasrat baca melalui buku. Di satu sisi, waktu tak kuasa larut dalam kemesraan bersama buku demi menyerap kenikmatan seusai baca di lain waktu.
Dalam uraian mengenai implikasi rendahnya minat baca siswa, dapat di katakan bahwa rendahnya minat baca siswa lebih banyak dimplikasikan oleh kuarangnya kesadaran siswa sendiri dalam memaknai subtansi dan signifikansi membaca bagi kehidupan mereka. Selama ini, membaca buku dianggap sebagai kegiatan yang melelahkan dan sangat berat. Kegiatan membaca buku memang melibtakan banyak aspek, yakni: to think (berpikir), to fell (merasakan), to act (bertindak melaksanakan apa yang diajarkan oleh sebuah buku). Membaca buku dapat menjadikan seseorag dapat mencapai idealisasi dan impian untuk mengembangkan masa depannya. Seringkali buku dikatakan sebagai jendela dunia. Siapa saja yang telah menjadi kutu buku, berarti ia telah menguasai dan menjelajahi dunia. Buku juga dapat menjadikan seseorang terkenal dan memperoleh impian yang diidam-idamkannya. Membaca merupakan upaya membuka ruang pikiran dan wawasan yang berkembang, sehinggga mampu memberikan sensasi petualangan intelektual yang mengasyikkan. Bahkan, mungkin ketika sudah mampu melahap beraga isi buku, seseorang mempunyai kesempatan untuk membuat buku. Taruhlah kemudian, Muhammad Iqbal yang berhasil menulis buku “ The Recontruction of Religius Thought in Islam “ setelah terilhami oleh Ihya’Ulumuddin-nya Imam Al-Gazhali.
Maka, dalam menghadapi tantangan zaman kita dituntut untuk menjadi pembaca buku yang setia yang mampu mengiluminasi ke seluruh penjuru dunia untuk memperoleh pelbagai macam informasi dan ilmu pengetahuan. Menjadi pembaca buku yang budiman memang membosankan, namun dibalik petualangan membaca tersebut , kita telah di bawa ke arah progresif yang dapat memberikan sensasi luar biasa dalam kehidupan. Membaca buku bukan hanya dijadikan tradisi, melainkan bagaimana optimalisasi dalam membangkitkan gairah membaca jauh lebih penting.

Upaya untuk Menumbuhkan Minat Baca
Dalam upaya mengantisipasi rendahnya minat baca di kalangan siswa, maka dibutuhkan adanya metode yang dapat membangun komitmen dan konsistensi dalam mentradisikan baca. Selama ini kita kurang menyadari akan pentingnya membaca buku. Kita cendrung berfoya-foya dalam menikmati indahnya kehidupan yang lebih memberikan kesan negatif bagi perkembangan kehidupan selanjutnya. Padahal kita tahu, bahwa membaca merupakan aktivitas yang mengasyikkan dan menyenangkan untuk mrmberikan nuansa keilmuan yang transformatif. Ketika diturunkan wahyu Tuhan pertama kalinya, yang diterima Nabi Muhammad, Jibril berkata: “Iqra” (bacalah). “ Ma aqra ?” (tetapi apa yang harus di baca ? ) tanya Nabi- Pertanyaan itu tidak dijawab, karena selama bacaan tersebut “Bismi Rabbika”, dalam artian bermanfaat untuk kemanusiaan. Perintah untuk “membaca” adalah langsung dari Tuhan. Membaca awal mulanya suatu ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan keberhasilan manusia.
Membaca tidak hanya terpaku pada sebuah buku yang ada dihadapan kita, tetapi juga alam manusia dan hubungannya, bahkan tentang Tuhannya sekalipun. Begitu pula tentang ilmu-ilmu ekonomi, hukum, budaya, dan politik. Selain dari pada itu, kita di tuntut untuk berpikir setelah membaca sesuatu hal. Membaca pada gilirannya dapat membuka ruang berpikir bagi seseorang menjadi lebih aktif dan progresif. Dimana seseorang yang melakukan aktivitas membaca, berarti ia telah berpikir dan belajar mengenai keadaan sesuatu yang ada dihadapannya. Penekanan akan arti pentinganya berpikir dan belajar begitu sangat dimulyakan oleh Allah. Karena hal inilah yang akan menyelamatkan manusia dari lembah kehancuran dan mampu mendorong manusia pada kemajuan peradaban
Berangkat dari realitas, kita sebagai generasi muda bangsa Indonesia harus mampu membangun spirit dalam membaca. Seseorang yang berhasil membangun spirit dalam membaca, pada gilirannya dapat mereformasi kehidupan pribadinya. Spirit inilah yang kemudian dapat menumbuhkan minat baca yang cendrung mengalami kemerosotan. Menumbuhkan minat baca memang bukan merupakan pekerjaan yang mudah untuk direalisasikan, namun setidaknya kita bisa membangun komunitas membaca (reading community) sebagai upaya alternatif dalam merealisasikan dambaan tersebut.
Maka, peran perpustakaan disini menjadi sangat penting dalam merealisasikan agenda pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan diyakini sebagai pusat pembelajaran (learning center) yang memiliki ruang yang representatif untuk dijadikan tempat belajar. Taruhlah kemudian kita dapat mengambil pelajaran dari Alexandria di Mesir yang dikenal dunia bukan karena kota pelabuhan yang ramai, melainkan karena di sanalah perpustakaan pertama didirikan manusia sebagai sentrum pembelajaran (learning center) yang tak hanya menyajikan kelengkapan koleksi buku ; tapi juga mampu mengatur pembaca (reader) untuk membangkitkan rasa ingin tahu (kuriositas) hingga tak mudah mencapai titik jenuh.
Muhammad Ali Hisyam selanjutnya memberikan pemahaman (understanding) dalam lanjutan tulisannya yang berjudul “ Di Cari Perpustakaan Ramah Baca “ bahwa sarana perpustakaan yang di bangun di Mesir lebih dari dua Melenium silam itu bukan semata kondusif untuk dijadikan “rumah kedua”. Lebih dari itu, ia mendorong publik dari keberminatan untuk membaca menjadi perasaan “lapar” bila tanpa aktivitas membaca. Orang Belanda mengenal kata “leeshonger “ guna menggambarkan rasa lapar atau kebutuhan akan membaca. Pelajaran yang bisa kita petik dari kemajuan perpustakaan Alexandria di Mesir tersebut adalah bahwa peranan perpustakaan memiliki pengaruh signifikan untuk membangkitkan minat baca siswa. Minat untuk membaca merupakan langkah awal untul menjadikan buku sebagai teman setia kita. Tidak salah kalau Gola Gong (2006) menilai bahwa” hanya dengan buku kita dapat menggenggam dunia : menjelajajah segala pemikiran dan imajinasi yang terhimpun di jagat raya”.
Dalam sejarah peradaban manusia, buku memiliki kekuatan yang amat dahsyat. Namun kedahsyatan buku tentu tidak akan ada artinya, jika benda tersebut hanya dipajang, tidak pernah disentuh, atau dibaca. Mengutip kata Joseph Brodsky, pengarang asal Rusia “ bahwa ada beberapa kejahatan yang lebih buruk dari pada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku”.
Dalam catatan Joseph Brodsky tersebut, penulis dapat memahami bahwa buku begitu sangat penting dalam kehidupan, sehingga membaca buku dapat memberikan pemahaman menganalisa sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk itu, momentum Hari Buku Nasional 2006, yang bersamaan dengan sewindu reformasi, sangat tepat dijadiakan langkah strategis dalam mewujudkan terciptanya masyarakat baca. Sekaranglah saatnya mereformasi berbagai pemikiran yang menghambat nalar kritis di masa depan . Diantara upaya membangkitkan dan menumbuhkan minat baca bagi siswa adalah pertama, memberikan sosialisasi akan signifikansi membaca bagi siswa. Dapat dikatakan bahwa membaca buku adalah selezat makanan pizza. Dengan menyalurkan budaya baca khususnya bagi siswa sebagai penerus bangsa, maka disitu kita dapat membangun peradaban.
Kedua, menjadikan buku sebagai wujud peradaban bangsa. Sebagaimana perkataan Muhammadun A.S dalam petikan tulisannya “Andaikan Buku Sepotong Pizza” dengan menempatkan buku sebagai peran utama dalam mencetak peradaban, maka tugas setiap personal orang bangsa, khususnya yang berkecukupan (the have) untuk membuat perpustakaan yang dapat diakses secara bebas oleh masyarakat..
Ketiga, mewujudkan komunitas membaca (reading community). Dambaan ini dapat menjadi kenyataan, apabila komunitas yang dibangun terorganisir dengan baik. Terwujudnya komunitas membaca (reading community) merupakan dambaan yang selama ini kita rindukan untuk membuat perkumpulan baca diantara elemen perpustakaan di sekolah. Pembangunan komunitas membaca (reading community) dimaksudkan untuk membangkitkan minat baca siswa yang diyakini memiliki manfaat besar (big benefit) bagi peningkatan wawasan dan pengetahuan.
Keempat, membangun mentalitas siswa yang malas membaca buku. Selama ini bangsa Indonesia terkenal dengan sifat malasnya dalam melaksanakan aktivitas setiap harinya. Bagaimanapun, biang utamanya terletak pada mental sebagian besar siswa yang memang pemalas membaca buku. Sampai-sampai ada sebuah joke satire : “ kalau orang Jepang tidur sambil membaca, orang Indonesia membaca buku sambil tidur “
Akhirnya, demi membangkitkan minat baca siswa semua pihak yang berkompeten baik penulis, penerbit, orangtua, guru, pustakawan harus memiliki konsistensi yang tinggi dalam membantu mencari problem solving dari permasalahan rendahnya minat baca. Dalam hal ini, perpustakaan memiliki peranan yang signifikan untuk menggelorakan baca buku dikalangan siswa pada khususnya. Wallahu a’lam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar