Rabu, 27 Januari 2010

Mendambakan Sosok Guru Ideal Sebagai Pemimpin Masa Depan (Juara 1 LKTI Diknas Sumenep 2006)

Oleh. Mohammad Takdir Ilahi

Pendahuluan

Dewasa ini keberadaan guru tengah mendapatkan sorotan yang cukup tajam dari beberapa kalangan yang mempunyai antusiasme terhadapa dunia pendidikan. Hal ini disebabkan oleh menurunnya kualitas seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai tenaga pengajar di lembaga sekolah. Kualitas seorang guru semakin di pertanyakan, apakah ia mempunyai dedikasi yang baik dalam melaksanakan tugasnya atau tidak ?
Menurunnya kualitas guru saat ini, lebih banyak diimplikasikan oleh kurangnya kesadaran untuk meningkatkan kualitas keilmuannya dan metode yang di tetapkan oleh pemerintah. Sehingga hal ini menjadi problem yang krusial dalam dunia pendidikan untuk kemudian dicari problem solving-nya.
Padahal guru dalam perspektif banyak orang masih menjadi agent of teaching untuk melaksankan program pendidikan yang diamanatkan kepada pemerintah. Keberadaan guru diyakini mampu memberikan wahana penyegaran terhadap peserta didik yang membutuhkan peningkatkan dalam aplikasi keilmuannya. Guru memiliki peranan yang cukup signifikan dalam menumbuhkan kreatifitas dan keterampilan peserta didik. Begitu vitalnya peran guru dalam dunia pendidikan, sehingga ia menempati posisi yang amat strategis dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.
Posisi yang amat strategis tersebut, setidaknya menjadi acuan fundamental bagi guru untuk meningkatkan kualitas anak didinya. Keberadaan guru masa kini memang menjadi problem dalam dunia pendidikan. Karena mungkin berbagai hal yang menyebabkan keberadaan guru semakin dipertanyakan. Gambaran guru masa kini mempunyai ciri-ciri sebagia berikut. Pertama, masalah loyalitas dan dedikasinya kepada bangsa. Seorang guru yang profesional adalah guru yang mempunyai kesetian dalam melaksanakan tugasnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam mengajar, seorang guru sudah tidak lagi mengedepankan loyalitas terhadap bangsa dan profesi yang ditekuninya.
Kedua, adanya guru cacat bawahan. Banyak guru yang kebetulan menjadi guru tidak didorong oleh cita-cita yang diidamkannya, tapi karena tidak ada pekerjaan lain yang dapat dilakukan. Problem guru demikian perlu dipertanyakan kualitas keilmuannya dalam mengajar siswa.
Ketiga, guru yang bersikap kapitalis. Gambaran guru demikian memang menjadi satu kekhawatiran tersendiri dalam dunia pendidikan kita. Guru mengajar bukan karena tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Akan tetapi hanya berdasarkan pada upaya untuk mendapatkan bayaran dari pemerintah. Guru yang mengedepankan bayaran ketimbang tanggung jawab yang sedang dipikulnya, akan sangat berpengaruh dominan terhadap dedikasinya dalam melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Padahal predikat guru dalam dunia pendidikan adalah sebagai pahlawan tanpa jasa. Dalam hal ini penulis dapat memahami bahwa pahlawan tanpa jasa setidaknya bukan menjadi acuan dalam sosok guru sekarang. Hal ini karena mayoritas guru lebih mengedepankan bayaran dari pada upaya untuk mewjudkan idealisme pendidikan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa
Keempat, penerapan KBK yang masih belum maksimal. Keberadaan konsep KBK dalam dunia pendidikan masih belum menampakan hasil yang maksimal bagi perkembangan kreativitas dan keteranmpilan siswa. Pengemabngan kreativitas dan keterampilan menjadi sebuah bukti kongkrit bahwa KBK dapat diterapkan dengan baik oleh tenaga pengajar.
Sosok Guru Ideal di Masa Depan
Harapan masyarakat terhadap kemajuan pendidikan amatlah besar. Kemajuan pendidikan sangat ditentukan oleh keberadan guru yang mempunyai peranan vital dalam dunia pendidikan. Peranan guru menduduki posisi vital dalam proses pembelajaran. Malah dalam falsafah Jawa, sosok guru itu menjadikan “suri teladan” (Arab: Uswatun Hasanah) bagi anak didiknya. Guru itu adalah sosok yang di- gugu (di-percaya) dan ditiru (di- contoh). Maka melihat posisi itu dalam falsafah Jawa seperti sebuah “cermin” . Semakin jernih cermin itu, maka semakin nampak kondisi peserta didik. Begitu pula dengan sosok guru yang merupakan cermin masa depan peserta didik dalam mengembangkan daya kreatifnya.
Bagaimanapun posisi guru dalam dunia pendidikan sangat dominan dalam memutuskan dan menentukan suatu kebijakan kepada peserta didik. Guru yang baik adalah guru yang mampu menjalin hubungan yang harmonis dan serasi seperti halnya seorang ayah kepada anaknya.
Dalam konsep pendidikan ideal, guru menduduki peran sebgai patner belajar bagi siswa. Guru itu teman belajar siswa yang memberikan arahan dan nasehat dalam proses belajar. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa akan tercipta, apabila keduanya memiliki pemahaman yang sama mengenai posisi keduanya. Dengan begitu, guru bukan menjadi momok yang menakutkan bagi siswa.
Guru yang mempunyai pandangan masa depan akan sangat besar pengaruhnya ketika peserta didiknya mendapatkan prestasi belajar yang baik dalam dunia pendidikan. Tidak hanya peningkatan prestasi belajar yang dijadikan target untuk mencapai sebuah keberhasilan dan kesuksesan, namun perubahan tingkah laku amat penting untuk digalakkan dan dijadikan langkah awal dalam mencapai idealisme dalam belajar. Dalam hal ini,”attitudes” guru amat diperlukkan, sebab hal ini akan melandasi hubungan interpersonal guru dengan murid yang lebih fair, konfedensial, dan fermisif. Guru dituntut sebagai figur yang benar-benar dipercaya dan diyakini dalam menumbuhkan sikap kebebasan terhadap siswa untuk mengungkapkan problematikanya.
Guru masa depan adalah guru yang mempunyai pandangan jauh untuk membantu meningkatkan kualitas keilmuan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Harapan terhadap guru masa depan menjadi dambaan kita bersama, karena guru seperti itu akan menjadi panutan dan contoh yang baik dalam lingkungan sekolah dan keluarganya.
Sikap guru terhadap siswanya harus seimbang dan selaras. Sehingga merupakan hubungan yang harmonis dan penuh keserasian. Selama ini, siswa dianggap sebagai objek pendidikan. Maka sudah saatnya siswa diberi kebebasan untuk megekspresikan dan mengeksplorasi segala kemampuan yang dimilikinya untuk dikembangkan lebih lanjut, agar nanti potensi yang ada dalam jiwa peserta didik itu sendiri dapat berkembang dan menampakkan hasil yang maksimal dan memenuhi target utama pendidikan. Melalui sikap seperti itulah Noeng Muhadjir mengatakan bahwa tidak ada yang didudukkan sebagai objek pendidikan dan tidak ada yang dieksploitasi serta tidak ada hubungan yang koersif (yang hanya mempunyai otoritas hak asasi manusia terhadap yang lain). Dan tentu saja dengan moto yang sekaligus menghembuskan ahklak yang mulia adalah” hormati yang tua dan hargai yang muda”. Jadi antara guru dan siswa sama-sama sebagai subjek pendidikan yang mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan proses belajar mengajar.
Maka tak salah jika kemudian Made Pidarta (1980) yang diikutip Kamrani Buseri dalam bukunya yang berjudul ” Antologi Pendidikan Islam Dan Dakwah; Pemikiran Teoritis Praktis Kontemporer” mengemukakan bahwa berdasarkan penelitian untuk memperoleh gelar dokternya menggambarkan profil guru masa depan sebagai berikut:
Pertama, komponen afeksi guru adalah sabar, gembira, rendah hati, bermoral baik, berusaha berbicara dengan jelas, bekerja tanpa pamrih, dan tidak mengadvertensikan profesinya.
Kedua, komponen penguasaan ilmu pengetahuan adalah berpendidikan formal yang lama, berpengetahuan tertentu yang spesifik, mendalami dan memperluas pengetahuan dalam bidangnya secara terus menerus, dan pengetahuannya terintegrasi untuk berorganinsasi
Ketiga, komponen penyajian pada pelajaran adalah menanamkan cara belajar yang kritis, mengembangkan kreatifitas dan kepercayaan diri sendiri, dan mengembangkan sikap positif pada dunia.
Keempat, komponen hubungan guru dan peserta didik adalah kenal dan sensitif terhadap keaadaan peserta didik yang bersangkutan, memiliki otonomi dalam bertindak terhadap siswa dan tidak bertindak otoriter.
Kelima, komponen guru dengan orang dewasa adalah menjadi anggota organisasi profesi, berteman baik dengan kawan-kawan seprofesi dan anggota masyarakat, sebagai contoh petugas pendidikan sosial dan menjadi koordinator lembaga-lemabaga nonformal di masyarakat.
Apa yang telah diutarakan di atas adalah sebuah ideal guru untuk menyongsong masa depan anak didik yang berkualitas. Guru dituntut untuk selalu pupil oriented. Artinya seorang guru harus mampu memahami kondisi siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Sehingga dengan demikian ia dapat menjadi peserta didik yang peka terhadap keaadan lingkungan yang ada dalam lembaga sekolah.

Guruku Dan Pemimpin Masa Depan

Leadership is the relationship in wich one person, the leader, in fluences others to work together willingly on related tasks to attain that which the leader discres (George Terry)
Petikan kalimat di atas menegaskan bahwa guru adalah menjadi pemimpin masa depan generasi muda yang berpendidikan. Predikat pemimpin dalam lingkungan pendidikan harus menjadi langkah awal dalam merealisasikan generasi muda yang tangguh, inovatif, kreatif serta berkesinambungan antara imtaq dan iptek.
Dalam hubungan ini, filosofi guru yang digugu dan ditiru merupakan suatu predikat bahwa guru adalah seorang pemimpin. Sebagai pemimpin masa depan guru diharapkan mampu menciptakan pembaharuan. Demi terwujudnya pembaharuan tersebut, guru harus mempunyai komitmen dan inovatif dalam mengembangkan visi dan misi masa depan generasi muda yang berkualitas. Komitmen yang dipegang guru dapat menjadi langkah objektif dalam merealisasikan agenda pendidikan yang diharapkkan peserta didik lebih termotivasi dengan komitmen tersebut.
James M. Kouzes dan Barry Z. Posner dalam bukunya berjudul” The Leadership Challenge”, 1987 memberikan sepuluh ‘Komitmen Pemimpin Dalam Menyambut Abad XXI’ dan ini harus dimiliki pula oleh seorang guru, antara lain: Pertama, mencari peluang yang menantang. Artinya guru harus responsive terhadap tuntutan zaman dengan kata lain proaktif dan tidak statis. Kedua, berani mencoba dan menanggung resiko. Artinya guru harus mempunyai terobosan-terobosan, walaupun harus bertentang dengan orang lain. Ketiga, memimpin masa depan. Dalam hal ini guru harus menampilkan pribadi yang inovatif dan kreatif serta menggambarkan wujud masa depan yang gemilang dan mencerahkan. Keempat, membina kerja sama dan mampu mengkomunikaskan suatu hubungan dengan pihak luar untuk menjalin time work yang kental demi terwujdnya keingninkan yang didambakan. Kelima, menyalurkan potensi dengan keterpaduan yang matang dalam rangka mewujudkan idealisme dalam penyamaan tujuan yang tidak bertentangan. Keenam, memperkuat mitra kerja supaya siswa terpengaruh dengan apa yang dimiliki guru untuk melakukan pembaharuan. Ketujuh, menunjukkan keteladanan. Guru berkewajiban untuk memberikan contoh yang baik kepada siswa, sehinggga menjadi pribadi yang memiliki kepribadian yang utuh dalam menjalani kehidupan. Kedelapan, merencanakan keberhasilan bertahap. Keberhasilan bertahap dimaksudkan agar guru mampu melaksanakan perencanaan yang matang dalam merealisasikan keberhasilan yang diinginkan oleh siswa itu sendiri. Kesembilan, menghargai setiap individu. Artinya guru harus memberikan perhatian yang layak kepada semua pihak dalam melaksanakan perencanaan yang matang untuk keberhasilan peserta didik kedepan. Kesepuluh, mensyukuri atas setiap keberhasilan yang diraih oleh peserta didik, sehinggga apa yang dicapai pada saat sekarang menjadi jalan alternatif untuk mencapai keberhasilan yang lebih menjanjikan.
Penutup
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keberadaan guru dalam lingkungan pendidikan sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkembangkan kreativitas dan keterampilan peserta didik yang mempunyai kemampuan dan keahlian tertentu untuk dikembangkan lebih lanjut. Karenanya guru dituntut untuk memiliki kemampuan profesional, sehinggga mendukung terhadap pelaksaan proses belajar mengajar. Guru ideal dan pemimpin masa depan menjadi harapan kita bersama dalam merealisasikan agenda pendidikan yang berorientasi pada upaya untuk mencerdaska kehidupan bangsa.Wallahu a’lam bishawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar